Sunday, October 08, 2006

jeda (2)

diam dan diam ini terasa menyiksa
namun angkuh mencoba pertahankan

kemarin ada beku sedingin es selalu datang dan pergi menghampiri kami, saat malam menjemput, malam menjadi malam dan malam mengantarkan pagi, dinginnya beku masih berada didalam dada yang (mungkin) dipenuhi amarah. Aku masih diam dalam tangis yang tak ingin kukeluarkan.

Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar menghampiri dan menyanyi, 'Cinta adalah cahaya ghaib yang bersinar dari kedalaman kehidupan yang peka dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya. Engkau bisa melihat dunia bagai sebuah perarakan yang berjalan melewati padang rumput hijau. Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah yang diangkat dari kesadaran dan kesadaran.' (kg)

Kukabarkan padamu bahwa hidup adalah kegelapan
jika tidak diselimuti oleh kehendak
Kukabarkan padamu bahwa ikatan ini adalah dua dijadkan satu
jika kau ingin terberai, bungkuslah dia dengan cinta
atau tidak ingin sama sekali

Saturday, October 07, 2006

jeda (yang) membeku

Tak ada tawa tak ada canda
Yang ada hanya jeda yang panjang…..


Begitu cepat waktu membalikan kenyataan. Satu dalam kerinduan yang dalam berganti jeda yang menyesakkan dada ini. Terlalu besar hati ini untuk menyiramkan sejuk dalam bara yang memanas dihati ini. Memahami dan memaknai hubungan tak disadari suatu yang ingin sekali dimiliki. Entahlah, kenapa begitu rentan panas itu menyirami hati ini, namun begitu besar rasa angkuh untuk saling menyadari dan menerima kekurangan.
Aku tak tahu untuk melihat ini kedepan, terlalu takut aku menitipkan butiran-butiran harap itu, terlalu sedih rasanya membayangkan hari-hari kedepan dengan kenyataan yang belum terbaca sempurna.
Jeda ini masih berdiam dalam diri ini, masih ingin mengisi relung hati yang sedikit terluka. Aku tak tahu apakah ini egoisme yang terlalu ingin bersama-sama dengan kita? Apakah kita terlalu dini untuk saling memaknai ikatan yang telah dikuatkan?
Ada Tanya yang mencoba bermain disudut hati ini, menafakuri apa yang sering menyapa diantara ikatan ini. Inikah makna memiliki itu? Kenapa aku merasa ada ketidak sempurnaan dalam berbagi? Kenapa ada keangkuhan yang masih bertahan didalam?
Jeda itu masih bermain disini dan (serasa) tak ingin mencairkan gunung es itu walaupun panas bara masih membara.

Tuesday, October 03, 2006

Egoisme(ku) atau rasa cinta(ku)

Kemana ujung bila tak mencari awal
Dibalut Tanya kugamit untaian kata dalam tiap desah nafas ini
Memiliki sepenuhnya atau terbungkus sebab?

Sore ini Tanya dalam untaian kata-kata mengusik lamunanku, lamunan tentang masa depan. Ada setetes harap yang kurasa tumbuh bagai jamur dimusim hujan dalam hati ini. Tanya kembali menyapa dengan kesejukan embun pagi. Apakah ini egoismeku pribadi atau memang rasa cintaku? Aku diam lama memikirkan ini. Ada rasa yang tak ingin terlepas, ada rasa yang tak ingin terlambat. Seperti penumpang menunggu kereta terakhir, aku teringat masa awalku. Apakah seperti ini juga rasa yang dulu pernah dirasa olehnya?

Aku terdiam dalam kesendirian, kubiarkan rencana ini mengalir hingga kelak saatnya tiba. Namun hati tak pernah berdusta, rasa tak pernah berbohong. Ada harap yang kembali hadir di relung hati ini, menghadirkan sejuta optimisme akan hari bahagia itu. Biarlah dia menjadi pilihan untuk satu dalam rasa bahagia kelak dan nanti.

Kumenitip doa dalam tengadah penghambaannku

Ijinkan aku berjalan bersamanya nanti dengan rasa cintaku bukan rasa egoisku wahai yang menguasai hati…jika dia yang Kau ijinkan untuk mengisi detik-detik kehidupannku kelak, biarkan rasa ini tetap ada dan bertambah, jika tidak jadikan yang terbaik bagi kami berdua, Amien.